Thursday 6 October 2016

every the very hairs

MARRIAGE 40: INGIN WAJAHNYA CACAT

Maxie Dunnam, Presiden Sekolah Seminari Alkitab Asbury, berkisah mengenai Dr. Maxwell Maltz, seorang dokter bedah plastik, dalam bukunya yang berjudul, “Ini adalah Kekristenan.” Seorang pria terluka dalam kebakaran ketika ia mencoba menyelamatkan orang tuanya dari dalam rumah yang terbakar. Tetapi ia tidak dapat menyelamatkan orang tuanya. Mereka meninggal. Wajahnya terbakar dan menjadi cacat. Ia salah mengartikan kesakitan yang dideritanya sebagai hukuman dari Tuhan. Pria itu tidak mengijinkan siapapun untuk pun melihat wajahnya, termasuk sang istri.

Sang istri menemui Dr. Maltz dan meminta pertolongan. Sang dokter memberitahu sang istri untuk tidak menjadi khawatir, “Saya dapat memulihkan wajahnya.” Sang istri tidak yakin jika suaminya akan mengijinkan sang dokter untuk menolongnya karena suaminya sudah berulangkali menolak pertolongan dari orang lain.

Kemudian sang istri berkata, “Itulah alasannya mengapa saya menemui Anda. Saya ingin Anda membuat wajah saya cacat sehingga saya pun bisa seperti suami saya! Jika saya dapat berbagi kesakitannya, mungkin ia akan mengijinkan saya untuk kembali ke dalam kehidupannya.”

Dr. Maltz sangat terkejut. Ia menolak permintaan sang istri tetapi tersentuh oleh kasih wanita tersebut bagi suaminya sehingga ia pun berbicara dengan sang suami. Sambil mengetuk kamar si suami, ia berteriak dengan suara keras, “Saya adalah seorang dokter bedah plastik, dan saya ingin Anda tahu bahwa saya dapat memulihkan wajah Anda.”

Tidak ada jawaban. “Keluarlah”. Tidak ada jawaban. Sambil berbicara melalui pintu, Dr. Maltz memberitahu sang suami mengenai rencana istrinya. “Istrimu ingin saya membuat wajahnya menjadi cacat, membuat wajahnya seperti wajah Anda supaya Anda mengijinkannya masuk kembali ke dalam kehidupan Anda. Begitulah besar kasih istri Anda kepada Anda.”

Ada sebuah keheningan, dan kemudian, tombol pintu mulai dibuka.

Apa yang dirasakan oleh wanita itu kepada suaminya adalah apa yang dirasakan Tuhan mengenai Anda. Ia merendahkan diriNya dan mengambil rupa sebagai manusia dan mati menggantikan kita.

Friday 30 September 2016

walked in our shoes

MARRIAGE 39: ARTI MENGASIHI

Kasih berarti bergabung dengan mereka yang berbeda pendapat dengan saya dan memiliki hati Bapa.

Diadaptasi dari keinginan terakhir seorang anak laki-laki.

Seorang anak laki-laki Korea diadopsi oleh sebuah keluarga Amerika yang dipenuhi dengan kegembiraan. Ketika sang anak bertumbuh dewasa, orang tua angkatnya menyadari bahwa sang anak kehilangan daya dengar. Dengan segera, kemampuannya untuk berbicara dan penglihatannya juga menurun, bahkan ia hampir menjadi buta. Sang orang tua angakat yang dilanda kesedihan itu kemudian bertanya, “Apakah ada yang bisa kami lakukan untukmu?” Sang anak bertanya, “Saya ingin melihat ibu kandung saya sebelum saya kehilangan penglihatan saya.” 

Sang orang tua meminta stasiun TV Korea untuk menolong, dan setelah bekerja keras, mereka pun dapat mempertemukan sang anak dengan ibunya. Dengan air mata mengalir di pipinya, sang anak berteriak, “Mama!” Ia hampir tidak dapat melihat sang ibu dengan penglihatannya yang buruk. Ia mengernyit untuk dapat melihat wajah sang ibu dengan lebih jelas. Dengan perlahan tangannya meraba wajah ibunya dan ia berkata…”Ma, aku mengasihimu.”

Saat itu semua kemarahan, kepahitan, kesepian dan kerinduannya meleleh…yang ada hanyalah damai sejahtera dan kasih.

Thursday 29 September 2016

MARRIAGE 37: ASUMSI YANG SALAH

Seorang pastor bercerita bagaimana ia harus melarikan bayi perempuannya ke kamar darurat agar dokter bisa memompa perutnya. Sang bayi dilahirkan tanpa kemampuan untuk mencium. Suatu hari sang bayi merangkak di lantai dan menemukan semangkuk terpentin, atau bahan pengencer cat. Terpentin itu terlihat seperti susu, dan karena sang bayi tidak dapat mencium maka ia pun meminum terpentin itu dan menjadi sangat sakit karenanya.


Asumsi yang salah dapat mengarah kepada kesimpulan yang salah, dan kesimpulan yang salah dapat mengarah kepada tindakan yang salah. Dalam beberapa kasus, kita bisa menertawakan akibat dari asumsi kita yang salah. Dalam beberapa kasus yang lain, asumsi yang salah bisa mematikan.


Sebagian besar dari kita hidup dengan beberapa asumsi yang salah. Orang tua kita, guru kita, kebudayaan kita, media, memberikan input kedalam hidup kita. Dan beberapa dari input tersebut adalah asumsi yang salah.

Sebagai contoh, banyak orang muda memiliki asumsi yang salah bahwa pernikahan yang baik itu dibangun di atas cincin berlian, perasaan yang enak dan kesesuaian. Asumsi yang salah seperti itu mengarah kepada kesimpulan yang salah, bahwa tidak ada hal lainnya yang diperlukan untuk membangun sebuah pernikahan yang baik. Akibatnya adalah tidak adanya tindakan setelah pernikahan, yang sering mengarah kepada kekecewaan dan bahkan perceraian.

Di sisi lain mereka yang sudah menikah dan memiliki pernikahan yang baik mengetahui bahwa kerja keras, pengampunan dan pengorbanan diri haruslah menjadi bagian dari persamaan untuk sebuah pernikahan yang baik. Asumsi yang salah mengarah kepada kesimpulan yang salah, dan akhirnya mengarah kepada tindakan yang salah.
 

see good in all things

Wednesday 28 September 2016

MARRIAGE 36: RAMUAN KASIH

Bill O’Donovan, seorang misionaris SIM di Sekolah Alkitab di Kagoro, Nigeria, memberitahu murid-muridnya bahwa ia telah menemukan sebuah obat khusus yang secara drastis akan mengurangi pertengkaran di antara pasangan suami istri. 

Semua murid-murid menanti-nantikan saat di mana sang misionaris akan membawa obat itu ke kelas sehingga mereka bisa berhenti bertengkar dengan istri mereka. Setelah 14 minggu Bill O’Donovan datang ke kelas dan berkata, “Hari ini saya akan memberitahu kalian mengenai obat yang akan merupakan pencegah perkelahian di antara pasangan suami istri.” Kemudian ia menggambar sebuah botol besar di papan tulis dan menulis “1 Kor 13:4-7 – ramuan kasih.” 
 
Para murid-murid kemudian menyadari bahwa Tuhan telah memberikan obat untuk mengurangi kecenderungan manusia untuk bertengkar jika saja mereka menerapkan kasih di dalam komunikasi pernikahan mereka. Dengan segera kelas pernikahan dan keluarga Bill O’Donovan menjadi legenda karena kepraktisannya.