Wednesday, 28 September 2016

MARRIAGE 35: PENGORBANAN UNTUK KEKASIH

Pastor E.V. Hill berbicara mengenai kekerasan rasial di pusat kota Watts, di daerah Los Angeles. Ia adalah seorang pastor gereja Baptis yang terperangkap di tengah-tengah ketegangan yang sedang terjadi. Ada seorang pastor kulit hitam yang sudah terbunuh karena keterlibatan mereka di dalam ketegangan rasial ini. E.V Hill menerima ancaman telepon yang memberitahunya bahwa jika ia tidak menghentikan keterlibatannya dalam konflik rasial ini, maka ia akan dibunuh.

Mereka memberitahu E.V. Hill bahwa mereka akan menaruh bom di mobilnya. Hari berikutnya ketika ia terbangun, ia tidak dapat menemukan istrinya. Ketika ia memeriksa garasi, ia pun tidak dapat menemukan mobilnya. Kemudian ia melihat keluar jendela dan melihat istrinya sedang mengendarai mobil itu. Ketika ia bertanya kepada sang istri mengenai apa yang sedang ia lakukan, sang istri menjawab, ‘Saya hanya ingin memastikan bahwa tidak ada bom yang meledak dan melukaimu.’ 

Pastor E.V. Hill berkata bahwa ia tidak pernah mempertanyakan kasih kekristenan istrinya. Itu adalah jenis komitmen dan kasih yang yang menginspirasikan seseorang untuk mempertaruhkan nyawanya sendiri. Bukankan ini adalah contoh kekristenan yang diteladankan oleh Yesus Kristus, memberikan nyawanya sendiri?
 

take every thought

Friday, 8 July 2016

MARRIAGE 34: KEKASIH HIDUPKU

Istri Rick Warren yang bernama Kay menderita kanker. [Rick adalah pengarang buku “Purpose Driven Life” atau “Hidup yang digerakkan oleh tujuan.”] Rick menulis sebuah surat setiap hari melalui websitenya, dan ini adalah isi suratnya baru-baru ini.


“Banyak di antara Anda yang bertanya mengenai kemajuan Kay dalam hal pengobatan kankernya, jadi kami ingin memberikan laporan perkembangan. Kami sudah sedikit melewati ½ dari periode 12 minggu perawatan kemo. Kemarin Kay baik-baik saja di rumah sakit sampai efek kemo menyerangnya, dan dengan segera kondisi Kay menjadi buruk. Ia merasa mual. Sisa hari itu terasa sangat berat sementara para perawat berusaha mengurangi rasa sakitnya.


Hari ini, Kay merasa kelelahan akibat semua obat yang telah diberikan kepadanya. Ia juga mengalami rasa mual yang diakibatkan oleh kemo. Saya tidak memperbolehkan satu orang tamu pun untuk menjenguk sehingga ruangan Kay menjadi sunyi selama beberapa jam. Semakin sedikit tamu yang datang, semakin baik hal itu bagi Kay. Selain merawat Kay dengan hal-hal mendasar yang dibutuhkannya, saya hanya duduk diam, berpikir mengenai banyak hal, dan berterimakasih kepada Tuhan atas istri saya dan penciptaan Tuhan akan pernikahan yang luar biasa. Dengan semua hal-hal yang sifatnya naik dan turun dan di dalam “keadaan sakit dan sehat”, saya percaya bahwa pernikahan adalah alat utama Tuhan untuk mengajarkan kepada kita mengenai ketidakegoisan, kepekaan, pengorbanan dan kasih yang dewasa.

Saya ingin berterimakasih atas semua doa-doa Anda bagi Kay. Istri saya adalah kekasih dalam hidup saya, dan inilah yang Tuhan ingin untuk dilakukan oleh keluarga – saling merawat satu sama lain ketika dibutuhkan, bahkan ketika hal itu berarti bahwa Anda harus mengurangi pelayanan Anda untuk satu musim. Saya ingin semua suami yang berada di dalam pelayanan untuk melakukan hal yang sama jika mereka mengalami situasi seperti ini di dalam keluarga mereka. Tuhan memberkati kita ketika kita menjaga komitmen kita kepada satu sama lain.
 

Thursday, 7 July 2016

MARRIAGE 32: BERBAGI KOMITMEN

Masa pacaran Billy Graham bisa dibilang tidak romantis.  Daripada memberikan Ruth Bell bunga mawar, dia malah memberikan pil vitamin.  Daripada membawa dia menari di bawah bintang-bingang, dia malah memaksa Ruth untuk berolah raga.  Namun Ruth malah tertarik kepada Billy Graham.  "Waktu saya kembali dari pertemuan pertama," Ruth menceritakan, "saya ingat kalau saya berkata kepada Tuhan, 'Jika Engkau mengijinkan saya menghabiskan hidup saya dengan pria ini, ini akan menjadi suatu kehormatan yang paling besar yang bisa saya bayangkan."

Doa Ruth dijawab Tuhan.  Di Montreat Presbyterian Church di North Carolina, pada tanggal 13 Agustus 1943, putri dari seorang misionary menikahi seorang pendeta yang berumur 24 tahun yang dia temui di Wheaton Bible College.  Keesokan harinya Ruth bangun dan menemukan kalau suaminya tidur di lantai. "Ayah berpikir kalau ranjangnya terlalu empuk atau mungkin ada alasan lain," kata anaknya Gigi Tchividjian-Graham.  "Tetapi ibu saya kaget."  Selama lima dekade, Ruth menghabiskan banyak malam hari di ranjangnya dengan sendirian, seringkali tidur dengan jaket wol suaminya, sementara Billy Graham, membawa pesan rohani ke seluruh dunia.

Setelah pernikahannya, pasangan ini memulai pelayanan di kota Western Spring di luar Chicago.  Mereka begitu miskin sehingga secarik kain satin berwarna merah dipakai untuk membungkus bola lampu untuk dijadikan seperti tempat api unggun.  Seiring dengan meningkatnya kesibukan Billy Graham, tingkat perjalanannya juga meningkat, dan banyak meninggalkan Ruth untuk membesarkan kelima anaknya.  Ruth berkata, "Saya lebih baik memiliki sedikit dari Billy daripada banyak dari pria lain."

Keinginan untuk membangun sebuah rumah untuk suaminya, Ruth membangun satu rumah kayu di atas lahan 150 acres di Montreat pada tahun 1954.  Graham selalu kembali ke sana setelah setiap kebaktian kebangunan rohani.  "Setiap kali mereka berkumpul bersama, rasanya seperti bulan madu," kata Gigi.  "Mereka berbagi banyak kasih sayang.  Inilah yang meyakinkan saya."  Komitmen mereka begitu nampak bagi setiap orang.  "Bill selalu bangkit berdiri begitu Ruth masuk ke ruangan," kata penulis buku biography Graham, William Martin.  Billy Graham menambahkan, "Anda tahu, kami masih saling jatuh cinta."  Keintiman mereka dibatasi oleh banyak komplikasi yang diakibatkan oleh umur yang sudah menjadi tua.  Billy mengidap penyakit Parkinson, dan Ruth mengalami gangguan akan tulang belakangnya.  Mereka menghabiskan banyak waktu di rumah, di kursi yang berdampingan, di depan tempat api unggun.  "Mereka tidak ingin dipisahkan oleh banyak jarak," kata Gigi.  "Mereka seperti baru mengenai satu dengan yang lain di situ."

"Apa yang anda lihat adalah seorang pribadi dengan berkepala dua,"  kata teman mereka, penyanyi Pat Boone, "Mereka saling berbagi komitmen mereka."


Thursday, 30 June 2016

MARRIAGE 31: TELINGA YANG MENDENGARKAN

Meskipun orang Indian tidak mempunyai bahasa tertulis sebelum mereka bertemu dengan orang kulit putih, mereka sudah mempunyai bahasa tersendiri.  Seringkali kata-kata dari bahasa Indian memberikan gambaran yang lebih indah.  Di salah satu bahasa Indian, contohnya, kata 'sahabat' di gambarkan sebagai 'seseorang yang menggendong kesedihan saya di pundaknya.'

Seorang sahabat atau anggota keluarga yang datang kepada anda untuk mendapatkan penghiburan, atau mungkin meminta pendapat kita, seringkali lebih menginginkan kehadiran kita, telinga kita yang bersedia mendengarkan dan perhatian kita.

Seorang pria yang baru saja menikah menemukan hal ini setelah pernikahannya.  Istrinya seringkali begitu pulang ke rumah setelah seharian bekerja, menceritakan permasalahan-permasalahan pekerjaannya.  Tanggapan dari suaminya adalah dengan memberikan solusi dan saran untuk menyelesaikan permasalahannya.  Istrinya akhirnya mengatakan, "Saya sudah menyelesaikan semua permasalahan hari ini."  Suaminya lalu bertanya, "Lalu untuk apa kamu menceritakan semua permasalahanmu?"  Dia menjawab "Saya tidak memerlukan 'Tuan yang bisa menyelesaikan semuanya.'  Saya hanya memerlukan telinga yang mengasihi."

Seorang sahabat yang menyediakan tempat perlindungan baik secara fisik dan emosional tanpa selalu mencoba menyelesaikannya adalah tempat perlindungan yang baik.  Seringkali kita memerlukan seorang yang bisa mendengarkan dan mengerti kehidupan dan permasalahan kita.  Biarlah kita bisa menjadi sarana di mana Tuhan bisa memakai telinga kita untuk menunjukkan kasih dan perhatian Tuhan kepada mereka.

Tuesday, 28 June 2016

MARRIAGE 30: ENGKAU LUAR BIASA

Pada waktu berlibur di New England, Sue dan Kevin membli dua piring yang ada tulisan, "Engkau Luar Biasa"  Mereka begitu menyukainya sehingga mereka memakainya setiap hari.  Namun suatu hari, salah satu dari piring tersebut pecah.  Sejak saat itu, setiap malam, Sue dan Kevin berlomba untuk piring "Engkau Luar Biasa" itu - bukan untuk menerima piring itu, tetapi untuk memberikan piring itu sebagai penghormatan kepada pasangannya.

Waktu piring itu akhirnya pecah juga, Sue berkata dengan sedih, "Saya tidak pernah diperlakukan sedemikian rupa sepanjang umur saya seperti apa yang saya alami selama delapan bulan terakhir.  Dalam waktu delapan bulan ini, saya dan Kevin saling berlomba untuk memberikan penghargaan "Engkau Luar Biasa,"  Waktu Kevin memberikan piring itu pertama kali, hal itu merupakan pemicu untuk kita saling menguatkan setiap hari.  Kita sekarang mencari piring yang seperti itu lagi - termasuk satu piring untuk bayi kami yang akan lahir!"

Ada banyak hal-hal kecil yang kita bisa lakukan untuk membuat pasangan kita merasa spesial.  Berikanlah pujian dan kata-kata yang menguatkan setiap hari yang akan membawa suasana yang hangat, damai dan nyaman di rumah.  Pikirkan cara-cara untuk membuat anggota keluarga anda merasa spesial.

Wednesday, 22 June 2016

MARRIAGE 28: PERCAYA SATU DENGAN YANG LAIN

Pada tahun 1910 DeWitt Wallace mengembangkan satu ide untuk sebuah majalah.  Majalah itu terdiri dari artikel-artikel singkat dan dia menamainya Reader's Digest.  Dia mulai membuat contoh-contoh majalah itu dan mengirimkannya ke penerbit-penerbit seluruh negeri itu.  Tidak ada yang tertarik akan idenya.  DeWitt akhirnya menjadi putus asa.

Kira-kira di waktu yang sama, dia bertemu dengan Lila Bell Acheson, anak dari seorang pendeta.  Tidak lama kemudian mereka saling jatuh cinta.  Lila percaya akan mimpi DeWitt.  Dia tidak membiarkan DeWitt menyerah dan terus mendorong dia untuk terus mencoba idenya mengenai majalah tersebut.  Didukung oleh kepercayaan Lila kepadanya, DeWill mulai mengirim surat-surat kepada calon pelanggan.

Pada bulan Oktober 1921, Lila menikah dengan DeWitt.  Pada waktu mereka pulang dari bulan madu mereka, mereka menemukan setumpuk surat dari mereka yang tertarik untuk berlangganan.  Mereka mulai mengerjakan Volume 1, Nomor 1, yang diterbitkan pada bulan February 2922.  DeWitt Wallace memasukkan nama Lila Bell Acheson sebagai salah satu pendiri, editor dan pemilik.  Selama bertahun-tahun majalah yang berukuran kecil ini terus bertumbuh.  Sekarang sudah dicetak dalam 21 bahasa dan didistribusikan di lebih dari 70 negara, dan Reader's Digest menjadi majalah yang mempunyai penjualan paling tinggi di seluruh dunia.

DeWitt dan Lila bukan hanya sepasang suami istri, mereka juga adalah sahabat sejati.  Mereka mendukung, memberi semangat, dan percaya satu dengan yang lain.  Mereka bekerja bersama-sama untuk membuat mimpi mereka menjadi kenyataan dan dalam prosesnya mereka saling menghargai.

Kisah keberhasilan dari majalah Reader's Digest dimulai dari kasih sepasang suami istri.  Kasih yang selalu memberi, mendukung, memberikan kekuatan, membangun dan saling menolong.  Sungguh alangkah indahnya kalau sepasang suami dan istri yang bisa melakukan kasih yang demikian.  Pernikahan akan menjadi tempat di mana mimpi-mimpi akan bisa tercapai.