Thursday, 6 October 2016
MARRIAGE 40: INGIN WAJAHNYA CACAT
Maxie Dunnam, Presiden Sekolah
Seminari Alkitab Asbury, berkisah mengenai Dr. Maxwell Maltz, seorang dokter
bedah plastik, dalam bukunya yang berjudul, “Ini adalah Kekristenan.” Seorang
pria terluka dalam kebakaran ketika ia mencoba menyelamatkan orang tuanya dari
dalam rumah yang terbakar. Tetapi ia tidak dapat menyelamatkan orang tuanya.
Mereka meninggal. Wajahnya terbakar dan menjadi cacat. Ia salah mengartikan
kesakitan yang dideritanya sebagai hukuman dari Tuhan. Pria itu tidak
mengijinkan siapapun untuk pun melihat wajahnya, termasuk sang istri.
Sang istri menemui Dr. Maltz dan meminta pertolongan. Sang dokter memberitahu sang istri untuk tidak menjadi khawatir, “Saya dapat memulihkan wajahnya.” Sang istri tidak yakin jika suaminya akan mengijinkan sang dokter untuk menolongnya karena suaminya sudah berulangkali menolak pertolongan dari orang lain.
Kemudian sang istri berkata, “Itulah alasannya mengapa saya menemui Anda. Saya ingin Anda membuat wajah saya cacat sehingga saya pun bisa seperti suami saya! Jika saya dapat berbagi kesakitannya, mungkin ia akan mengijinkan saya untuk kembali ke dalam kehidupannya.”
Dr. Maltz sangat terkejut. Ia menolak permintaan sang istri tetapi tersentuh oleh kasih wanita tersebut bagi suaminya sehingga ia pun berbicara dengan sang suami. Sambil mengetuk kamar si suami, ia berteriak dengan suara keras, “Saya adalah seorang dokter bedah plastik, dan saya ingin Anda tahu bahwa saya dapat memulihkan wajah Anda.”
Tidak ada jawaban. “Keluarlah”. Tidak ada jawaban. Sambil berbicara melalui pintu, Dr. Maltz memberitahu sang suami mengenai rencana istrinya. “Istrimu ingin saya membuat wajahnya menjadi cacat, membuat wajahnya seperti wajah Anda supaya Anda mengijinkannya masuk kembali ke dalam kehidupan Anda. Begitulah besar kasih istri Anda kepada Anda.”
Ada sebuah keheningan, dan kemudian, tombol pintu mulai dibuka.
Apa yang dirasakan oleh wanita itu kepada suaminya adalah apa yang dirasakan Tuhan mengenai Anda. Ia merendahkan diriNya dan mengambil rupa sebagai manusia dan mati menggantikan kita.
Sang istri menemui Dr. Maltz dan meminta pertolongan. Sang dokter memberitahu sang istri untuk tidak menjadi khawatir, “Saya dapat memulihkan wajahnya.” Sang istri tidak yakin jika suaminya akan mengijinkan sang dokter untuk menolongnya karena suaminya sudah berulangkali menolak pertolongan dari orang lain.
Kemudian sang istri berkata, “Itulah alasannya mengapa saya menemui Anda. Saya ingin Anda membuat wajah saya cacat sehingga saya pun bisa seperti suami saya! Jika saya dapat berbagi kesakitannya, mungkin ia akan mengijinkan saya untuk kembali ke dalam kehidupannya.”
Dr. Maltz sangat terkejut. Ia menolak permintaan sang istri tetapi tersentuh oleh kasih wanita tersebut bagi suaminya sehingga ia pun berbicara dengan sang suami. Sambil mengetuk kamar si suami, ia berteriak dengan suara keras, “Saya adalah seorang dokter bedah plastik, dan saya ingin Anda tahu bahwa saya dapat memulihkan wajah Anda.”
Tidak ada jawaban. “Keluarlah”. Tidak ada jawaban. Sambil berbicara melalui pintu, Dr. Maltz memberitahu sang suami mengenai rencana istrinya. “Istrimu ingin saya membuat wajahnya menjadi cacat, membuat wajahnya seperti wajah Anda supaya Anda mengijinkannya masuk kembali ke dalam kehidupan Anda. Begitulah besar kasih istri Anda kepada Anda.”
Ada sebuah keheningan, dan kemudian, tombol pintu mulai dibuka.
Apa yang dirasakan oleh wanita itu kepada suaminya adalah apa yang dirasakan Tuhan mengenai Anda. Ia merendahkan diriNya dan mengambil rupa sebagai manusia dan mati menggantikan kita.
Friday, 30 September 2016
MARRIAGE 39: ARTI MENGASIHI
Kasih berarti bergabung dengan mereka
yang berbeda pendapat dengan saya dan memiliki hati Bapa.
Diadaptasi dari keinginan terakhir
seorang anak laki-laki.
Seorang anak laki-laki Korea diadopsi
oleh sebuah keluarga Amerika yang dipenuhi dengan kegembiraan. Ketika sang anak
bertumbuh dewasa, orang tua angkatnya menyadari bahwa sang anak kehilangan daya
dengar. Dengan segera, kemampuannya untuk berbicara dan penglihatannya juga
menurun, bahkan ia hampir menjadi buta. Sang orang tua angakat yang dilanda
kesedihan itu kemudian bertanya, “Apakah ada yang bisa kami lakukan untukmu?”
Sang anak bertanya, “Saya ingin melihat ibu kandung saya sebelum saya
kehilangan penglihatan saya.”
Sang orang tua meminta stasiun TV Korea untuk
menolong, dan setelah bekerja keras, mereka pun dapat mempertemukan sang anak
dengan ibunya. Dengan air mata mengalir di pipinya, sang anak berteriak,
“Mama!” Ia hampir tidak dapat melihat sang ibu dengan penglihatannya yang
buruk. Ia mengernyit untuk dapat melihat wajah sang ibu dengan lebih jelas.
Dengan perlahan tangannya meraba wajah ibunya dan ia berkata…”Ma, aku
mengasihimu.”
Saat itu semua kemarahan, kepahitan,
kesepian dan kerinduannya meleleh…yang ada hanyalah damai sejahtera dan kasih.
Thursday, 29 September 2016
MARRIAGE 37: ASUMSI YANG SALAH
Seorang pastor bercerita bagaimana ia harus melarikan bayi
perempuannya ke kamar darurat agar dokter bisa memompa perutnya. Sang bayi
dilahirkan tanpa kemampuan untuk mencium. Suatu hari sang bayi merangkak di
lantai dan menemukan semangkuk terpentin, atau bahan pengencer cat. Terpentin
itu terlihat seperti susu, dan karena sang bayi tidak dapat mencium maka ia pun
meminum terpentin itu dan menjadi sangat sakit karenanya.
Asumsi yang salah dapat mengarah kepada kesimpulan yang salah,
dan kesimpulan yang salah dapat mengarah kepada tindakan yang salah. Dalam
beberapa kasus, kita bisa menertawakan akibat dari asumsi kita yang salah.
Dalam beberapa kasus yang lain, asumsi yang salah bisa mematikan.
Sebagian besar dari kita hidup dengan beberapa asumsi yang
salah. Orang tua kita, guru kita, kebudayaan kita, media, memberikan input
kedalam hidup kita. Dan beberapa dari input tersebut adalah asumsi yang salah.
Sebagai contoh, banyak orang muda memiliki asumsi yang salah
bahwa pernikahan yang baik itu dibangun di atas cincin berlian, perasaan yang
enak dan kesesuaian. Asumsi yang salah seperti itu mengarah kepada kesimpulan
yang salah, bahwa tidak ada hal lainnya yang diperlukan untuk membangun sebuah
pernikahan yang baik. Akibatnya adalah tidak adanya tindakan setelah pernikahan,
yang sering mengarah kepada kekecewaan dan bahkan perceraian.
Di sisi lain mereka yang sudah menikah dan memiliki pernikahan
yang baik mengetahui bahwa kerja keras, pengampunan dan pengorbanan diri
haruslah menjadi bagian dari persamaan untuk sebuah pernikahan yang baik.
Asumsi yang salah mengarah kepada kesimpulan yang salah, dan akhirnya mengarah
kepada tindakan yang salah.
Wednesday, 28 September 2016
MARRIAGE 36: RAMUAN KASIH
Bill O’Donovan, seorang misionaris SIM di Sekolah Alkitab di
Kagoro, Nigeria, memberitahu murid-muridnya bahwa ia telah menemukan sebuah
obat khusus yang secara drastis akan mengurangi pertengkaran di antara pasangan
suami istri.
Semua murid-murid menanti-nantikan saat di mana sang misionaris akan membawa obat itu ke kelas sehingga mereka bisa berhenti bertengkar dengan istri mereka. Setelah 14 minggu Bill O’Donovan datang ke kelas dan berkata, “Hari ini saya akan memberitahu kalian mengenai obat yang akan merupakan pencegah perkelahian di antara pasangan suami istri.” Kemudian ia menggambar sebuah botol besar di papan tulis dan menulis “1 Kor 13:4-7 – ramuan kasih.”
Semua murid-murid menanti-nantikan saat di mana sang misionaris akan membawa obat itu ke kelas sehingga mereka bisa berhenti bertengkar dengan istri mereka. Setelah 14 minggu Bill O’Donovan datang ke kelas dan berkata, “Hari ini saya akan memberitahu kalian mengenai obat yang akan merupakan pencegah perkelahian di antara pasangan suami istri.” Kemudian ia menggambar sebuah botol besar di papan tulis dan menulis “1 Kor 13:4-7 – ramuan kasih.”
Para murid-murid kemudian menyadari bahwa Tuhan telah memberikan
obat untuk mengurangi kecenderungan manusia untuk bertengkar jika saja mereka
menerapkan kasih di dalam komunikasi pernikahan mereka. Dengan segera kelas
pernikahan dan keluarga Bill O’Donovan menjadi legenda karena kepraktisannya.
MARRIAGE 35: PENGORBANAN UNTUK KEKASIH
Pastor E.V. Hill berbicara mengenai kekerasan rasial di pusat
kota Watts, di daerah Los Angeles. Ia adalah seorang pastor gereja Baptis yang
terperangkap di tengah-tengah ketegangan yang sedang terjadi. Ada seorang
pastor kulit hitam yang sudah terbunuh karena keterlibatan mereka di dalam
ketegangan rasial ini. E.V Hill menerima ancaman telepon yang memberitahunya
bahwa jika ia tidak menghentikan keterlibatannya dalam konflik rasial ini, maka
ia akan dibunuh.
Mereka memberitahu E.V. Hill bahwa mereka akan menaruh bom di
mobilnya. Hari berikutnya ketika ia terbangun, ia tidak dapat menemukan
istrinya. Ketika ia memeriksa garasi, ia pun tidak dapat menemukan mobilnya.
Kemudian ia melihat keluar jendela dan melihat istrinya sedang mengendarai
mobil itu. Ketika ia bertanya kepada sang istri mengenai apa yang sedang ia
lakukan, sang istri menjawab, ‘Saya hanya ingin memastikan bahwa tidak ada bom
yang meledak dan melukaimu.’
Pastor E.V. Hill berkata bahwa ia tidak pernah
mempertanyakan kasih kekristenan istrinya. Itu adalah jenis komitmen dan kasih
yang yang menginspirasikan seseorang untuk mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Bukankan ini adalah contoh kekristenan yang diteladankan oleh Yesus Kristus, memberikan
nyawanya sendiri?
Friday, 8 July 2016
MARRIAGE 34: KEKASIH HIDUPKU
Istri
Rick Warren yang bernama Kay menderita kanker. [Rick adalah pengarang buku
“Purpose Driven Life” atau “Hidup yang digerakkan oleh tujuan.”] Rick menulis
sebuah surat setiap hari melalui websitenya, dan ini adalah isi suratnya
baru-baru ini.
“Banyak
di antara Anda yang bertanya mengenai kemajuan Kay dalam hal pengobatan
kankernya, jadi kami ingin memberikan laporan perkembangan. Kami sudah sedikit
melewati ½ dari periode 12 minggu perawatan kemo. Kemarin Kay baik-baik saja di
rumah sakit sampai efek kemo menyerangnya, dan dengan segera kondisi Kay
menjadi buruk. Ia merasa mual. Sisa hari itu terasa sangat berat sementara para
perawat berusaha mengurangi rasa sakitnya.
Hari
ini, Kay merasa kelelahan akibat semua obat yang telah diberikan kepadanya. Ia
juga mengalami rasa mual yang diakibatkan oleh kemo. Saya tidak memperbolehkan
satu orang tamu pun untuk menjenguk sehingga ruangan Kay menjadi sunyi selama
beberapa jam. Semakin sedikit tamu yang datang, semakin baik hal itu bagi Kay.
Selain merawat Kay dengan hal-hal mendasar yang dibutuhkannya, saya hanya duduk
diam, berpikir mengenai banyak hal, dan berterimakasih kepada Tuhan atas istri
saya dan penciptaan Tuhan akan pernikahan yang luar biasa. Dengan semua hal-hal
yang sifatnya naik dan turun dan di dalam “keadaan sakit dan sehat”, saya
percaya bahwa pernikahan adalah alat utama Tuhan untuk mengajarkan kepada kita
mengenai ketidakegoisan, kepekaan, pengorbanan dan kasih yang dewasa.
Saya
ingin berterimakasih atas semua doa-doa Anda bagi Kay. Istri saya adalah
kekasih dalam hidup saya, dan inilah yang Tuhan ingin untuk dilakukan oleh
keluarga – saling merawat satu sama lain ketika dibutuhkan, bahkan ketika hal
itu berarti bahwa Anda harus mengurangi pelayanan Anda untuk satu musim. Saya
ingin semua suami yang berada di dalam pelayanan untuk melakukan hal yang sama
jika mereka mengalami situasi seperti ini di dalam keluarga mereka. Tuhan
memberkati kita ketika kita menjaga komitmen kita kepada satu sama lain.
Thursday, 7 July 2016
MARRIAGE 32: BERBAGI KOMITMEN
Masa pacaran Billy Graham bisa dibilang tidak romantis. Daripada memberikan Ruth Bell bunga mawar, dia malah memberikan pil vitamin. Daripada membawa dia menari di bawah bintang-bingang, dia malah memaksa Ruth untuk berolah raga. Namun Ruth malah tertarik kepada Billy Graham. "Waktu saya kembali dari pertemuan pertama," Ruth menceritakan, "saya ingat kalau saya berkata kepada Tuhan, 'Jika Engkau mengijinkan saya menghabiskan hidup saya dengan pria ini, ini akan menjadi suatu kehormatan yang paling besar yang bisa saya bayangkan."
Doa Ruth dijawab Tuhan. Di Montreat Presbyterian Church di North Carolina, pada tanggal 13 Agustus 1943, putri dari seorang misionary menikahi seorang pendeta yang berumur 24 tahun yang dia temui di Wheaton Bible College. Keesokan harinya Ruth bangun dan menemukan kalau suaminya tidur di lantai. "Ayah berpikir kalau ranjangnya terlalu empuk atau mungkin ada alasan lain," kata anaknya Gigi Tchividjian-Graham. "Tetapi ibu saya kaget." Selama lima dekade, Ruth menghabiskan banyak malam hari di ranjangnya dengan sendirian, seringkali tidur dengan jaket wol suaminya, sementara Billy Graham, membawa pesan rohani ke seluruh dunia.
Setelah pernikahannya, pasangan ini memulai pelayanan di kota Western Spring di luar Chicago. Mereka begitu miskin sehingga secarik kain satin berwarna merah dipakai untuk membungkus bola lampu untuk dijadikan seperti tempat api unggun. Seiring dengan meningkatnya kesibukan Billy Graham, tingkat perjalanannya juga meningkat, dan banyak meninggalkan Ruth untuk membesarkan kelima anaknya. Ruth berkata, "Saya lebih baik memiliki sedikit dari Billy daripada banyak dari pria lain."
Keinginan untuk membangun sebuah rumah untuk suaminya, Ruth membangun satu rumah kayu di atas lahan 150 acres di Montreat pada tahun 1954. Graham selalu kembali ke sana setelah setiap kebaktian kebangunan rohani. "Setiap kali mereka berkumpul bersama, rasanya seperti bulan madu," kata Gigi. "Mereka berbagi banyak kasih sayang. Inilah yang meyakinkan saya." Komitmen mereka begitu nampak bagi setiap orang. "Bill selalu bangkit berdiri begitu Ruth masuk ke ruangan," kata penulis buku biography Graham, William Martin. Billy Graham menambahkan, "Anda tahu, kami masih saling jatuh cinta." Keintiman mereka dibatasi oleh banyak komplikasi yang diakibatkan oleh umur yang sudah menjadi tua. Billy mengidap penyakit Parkinson, dan Ruth mengalami gangguan akan tulang belakangnya. Mereka menghabiskan banyak waktu di rumah, di kursi yang berdampingan, di depan tempat api unggun. "Mereka tidak ingin dipisahkan oleh banyak jarak," kata Gigi. "Mereka seperti baru mengenai satu dengan yang lain di situ."
"Apa yang anda lihat adalah seorang pribadi dengan berkepala dua," kata teman mereka, penyanyi Pat Boone, "Mereka saling berbagi komitmen mereka."
Doa Ruth dijawab Tuhan. Di Montreat Presbyterian Church di North Carolina, pada tanggal 13 Agustus 1943, putri dari seorang misionary menikahi seorang pendeta yang berumur 24 tahun yang dia temui di Wheaton Bible College. Keesokan harinya Ruth bangun dan menemukan kalau suaminya tidur di lantai. "Ayah berpikir kalau ranjangnya terlalu empuk atau mungkin ada alasan lain," kata anaknya Gigi Tchividjian-Graham. "Tetapi ibu saya kaget." Selama lima dekade, Ruth menghabiskan banyak malam hari di ranjangnya dengan sendirian, seringkali tidur dengan jaket wol suaminya, sementara Billy Graham, membawa pesan rohani ke seluruh dunia.
Setelah pernikahannya, pasangan ini memulai pelayanan di kota Western Spring di luar Chicago. Mereka begitu miskin sehingga secarik kain satin berwarna merah dipakai untuk membungkus bola lampu untuk dijadikan seperti tempat api unggun. Seiring dengan meningkatnya kesibukan Billy Graham, tingkat perjalanannya juga meningkat, dan banyak meninggalkan Ruth untuk membesarkan kelima anaknya. Ruth berkata, "Saya lebih baik memiliki sedikit dari Billy daripada banyak dari pria lain."
Keinginan untuk membangun sebuah rumah untuk suaminya, Ruth membangun satu rumah kayu di atas lahan 150 acres di Montreat pada tahun 1954. Graham selalu kembali ke sana setelah setiap kebaktian kebangunan rohani. "Setiap kali mereka berkumpul bersama, rasanya seperti bulan madu," kata Gigi. "Mereka berbagi banyak kasih sayang. Inilah yang meyakinkan saya." Komitmen mereka begitu nampak bagi setiap orang. "Bill selalu bangkit berdiri begitu Ruth masuk ke ruangan," kata penulis buku biography Graham, William Martin. Billy Graham menambahkan, "Anda tahu, kami masih saling jatuh cinta." Keintiman mereka dibatasi oleh banyak komplikasi yang diakibatkan oleh umur yang sudah menjadi tua. Billy mengidap penyakit Parkinson, dan Ruth mengalami gangguan akan tulang belakangnya. Mereka menghabiskan banyak waktu di rumah, di kursi yang berdampingan, di depan tempat api unggun. "Mereka tidak ingin dipisahkan oleh banyak jarak," kata Gigi. "Mereka seperti baru mengenai satu dengan yang lain di situ."
"Apa yang anda lihat adalah seorang pribadi dengan berkepala dua," kata teman mereka, penyanyi Pat Boone, "Mereka saling berbagi komitmen mereka."
Thursday, 30 June 2016
MARRIAGE 31: TELINGA YANG MENDENGARKAN
Meskipun orang Indian tidak mempunyai bahasa tertulis sebelum mereka bertemu dengan orang kulit putih, mereka sudah mempunyai bahasa tersendiri. Seringkali kata-kata dari bahasa Indian memberikan gambaran yang lebih indah. Di salah satu bahasa Indian, contohnya, kata 'sahabat' di gambarkan sebagai 'seseorang yang menggendong kesedihan saya di pundaknya.'
Seorang sahabat atau anggota keluarga yang datang kepada anda untuk mendapatkan penghiburan, atau mungkin meminta pendapat kita, seringkali lebih menginginkan kehadiran kita, telinga kita yang bersedia mendengarkan dan perhatian kita.
Seorang pria yang baru saja menikah menemukan hal ini setelah pernikahannya. Istrinya seringkali begitu pulang ke rumah setelah seharian bekerja, menceritakan permasalahan-permasalahan pekerjaannya. Tanggapan dari suaminya adalah dengan memberikan solusi dan saran untuk menyelesaikan permasalahannya. Istrinya akhirnya mengatakan, "Saya sudah menyelesaikan semua permasalahan hari ini." Suaminya lalu bertanya, "Lalu untuk apa kamu menceritakan semua permasalahanmu?" Dia menjawab "Saya tidak memerlukan 'Tuan yang bisa menyelesaikan semuanya.' Saya hanya memerlukan telinga yang mengasihi."
Seorang sahabat yang menyediakan tempat perlindungan baik secara fisik dan emosional tanpa selalu mencoba menyelesaikannya adalah tempat perlindungan yang baik. Seringkali kita memerlukan seorang yang bisa mendengarkan dan mengerti kehidupan dan permasalahan kita. Biarlah kita bisa menjadi sarana di mana Tuhan bisa memakai telinga kita untuk menunjukkan kasih dan perhatian Tuhan kepada mereka.
Seorang sahabat atau anggota keluarga yang datang kepada anda untuk mendapatkan penghiburan, atau mungkin meminta pendapat kita, seringkali lebih menginginkan kehadiran kita, telinga kita yang bersedia mendengarkan dan perhatian kita.
Seorang pria yang baru saja menikah menemukan hal ini setelah pernikahannya. Istrinya seringkali begitu pulang ke rumah setelah seharian bekerja, menceritakan permasalahan-permasalahan pekerjaannya. Tanggapan dari suaminya adalah dengan memberikan solusi dan saran untuk menyelesaikan permasalahannya. Istrinya akhirnya mengatakan, "Saya sudah menyelesaikan semua permasalahan hari ini." Suaminya lalu bertanya, "Lalu untuk apa kamu menceritakan semua permasalahanmu?" Dia menjawab "Saya tidak memerlukan 'Tuan yang bisa menyelesaikan semuanya.' Saya hanya memerlukan telinga yang mengasihi."
Seorang sahabat yang menyediakan tempat perlindungan baik secara fisik dan emosional tanpa selalu mencoba menyelesaikannya adalah tempat perlindungan yang baik. Seringkali kita memerlukan seorang yang bisa mendengarkan dan mengerti kehidupan dan permasalahan kita. Biarlah kita bisa menjadi sarana di mana Tuhan bisa memakai telinga kita untuk menunjukkan kasih dan perhatian Tuhan kepada mereka.
Tuesday, 28 June 2016
MARRIAGE 30: ENGKAU LUAR BIASA
Pada waktu berlibur di New England, Sue dan Kevin membli dua piring yang ada tulisan, "Engkau Luar Biasa" Mereka begitu menyukainya sehingga mereka memakainya setiap hari. Namun suatu hari, salah satu dari piring tersebut pecah. Sejak saat itu, setiap malam, Sue dan Kevin berlomba untuk piring "Engkau Luar Biasa" itu - bukan untuk menerima piring itu, tetapi untuk memberikan piring itu sebagai penghormatan kepada pasangannya.
Waktu piring itu akhirnya pecah juga, Sue berkata dengan sedih, "Saya tidak pernah diperlakukan sedemikian rupa sepanjang umur saya seperti apa yang saya alami selama delapan bulan terakhir. Dalam waktu delapan bulan ini, saya dan Kevin saling berlomba untuk memberikan penghargaan "Engkau Luar Biasa," Waktu Kevin memberikan piring itu pertama kali, hal itu merupakan pemicu untuk kita saling menguatkan setiap hari. Kita sekarang mencari piring yang seperti itu lagi - termasuk satu piring untuk bayi kami yang akan lahir!"
Ada banyak hal-hal kecil yang kita bisa lakukan untuk membuat pasangan kita merasa spesial. Berikanlah pujian dan kata-kata yang menguatkan setiap hari yang akan membawa suasana yang hangat, damai dan nyaman di rumah. Pikirkan cara-cara untuk membuat anggota keluarga anda merasa spesial.
Waktu piring itu akhirnya pecah juga, Sue berkata dengan sedih, "Saya tidak pernah diperlakukan sedemikian rupa sepanjang umur saya seperti apa yang saya alami selama delapan bulan terakhir. Dalam waktu delapan bulan ini, saya dan Kevin saling berlomba untuk memberikan penghargaan "Engkau Luar Biasa," Waktu Kevin memberikan piring itu pertama kali, hal itu merupakan pemicu untuk kita saling menguatkan setiap hari. Kita sekarang mencari piring yang seperti itu lagi - termasuk satu piring untuk bayi kami yang akan lahir!"
Ada banyak hal-hal kecil yang kita bisa lakukan untuk membuat pasangan kita merasa spesial. Berikanlah pujian dan kata-kata yang menguatkan setiap hari yang akan membawa suasana yang hangat, damai dan nyaman di rumah. Pikirkan cara-cara untuk membuat anggota keluarga anda merasa spesial.
Wednesday, 22 June 2016
MARRIAGE 28: PERCAYA SATU DENGAN YANG LAIN
Pada tahun 1910 DeWitt Wallace mengembangkan satu ide untuk sebuah majalah. Majalah itu terdiri dari artikel-artikel singkat dan dia menamainya Reader's Digest. Dia mulai membuat contoh-contoh majalah itu dan mengirimkannya ke penerbit-penerbit seluruh negeri itu. Tidak ada yang tertarik akan idenya. DeWitt akhirnya menjadi putus asa.
Kira-kira di waktu yang sama, dia bertemu dengan Lila Bell Acheson, anak dari seorang pendeta. Tidak lama kemudian mereka saling jatuh cinta. Lila percaya akan mimpi DeWitt. Dia tidak membiarkan DeWitt menyerah dan terus mendorong dia untuk terus mencoba idenya mengenai majalah tersebut. Didukung oleh kepercayaan Lila kepadanya, DeWill mulai mengirim surat-surat kepada calon pelanggan.
Pada bulan Oktober 1921, Lila menikah dengan DeWitt. Pada waktu mereka pulang dari bulan madu mereka, mereka menemukan setumpuk surat dari mereka yang tertarik untuk berlangganan. Mereka mulai mengerjakan Volume 1, Nomor 1, yang diterbitkan pada bulan February 2922. DeWitt Wallace memasukkan nama Lila Bell Acheson sebagai salah satu pendiri, editor dan pemilik. Selama bertahun-tahun majalah yang berukuran kecil ini terus bertumbuh. Sekarang sudah dicetak dalam 21 bahasa dan didistribusikan di lebih dari 70 negara, dan Reader's Digest menjadi majalah yang mempunyai penjualan paling tinggi di seluruh dunia.
DeWitt dan Lila bukan hanya sepasang suami istri, mereka juga adalah sahabat sejati. Mereka mendukung, memberi semangat, dan percaya satu dengan yang lain. Mereka bekerja bersama-sama untuk membuat mimpi mereka menjadi kenyataan dan dalam prosesnya mereka saling menghargai.
Kisah keberhasilan dari majalah Reader's Digest dimulai dari kasih sepasang suami istri. Kasih yang selalu memberi, mendukung, memberikan kekuatan, membangun dan saling menolong. Sungguh alangkah indahnya kalau sepasang suami dan istri yang bisa melakukan kasih yang demikian. Pernikahan akan menjadi tempat di mana mimpi-mimpi akan bisa tercapai.
Kira-kira di waktu yang sama, dia bertemu dengan Lila Bell Acheson, anak dari seorang pendeta. Tidak lama kemudian mereka saling jatuh cinta. Lila percaya akan mimpi DeWitt. Dia tidak membiarkan DeWitt menyerah dan terus mendorong dia untuk terus mencoba idenya mengenai majalah tersebut. Didukung oleh kepercayaan Lila kepadanya, DeWill mulai mengirim surat-surat kepada calon pelanggan.
Pada bulan Oktober 1921, Lila menikah dengan DeWitt. Pada waktu mereka pulang dari bulan madu mereka, mereka menemukan setumpuk surat dari mereka yang tertarik untuk berlangganan. Mereka mulai mengerjakan Volume 1, Nomor 1, yang diterbitkan pada bulan February 2922. DeWitt Wallace memasukkan nama Lila Bell Acheson sebagai salah satu pendiri, editor dan pemilik. Selama bertahun-tahun majalah yang berukuran kecil ini terus bertumbuh. Sekarang sudah dicetak dalam 21 bahasa dan didistribusikan di lebih dari 70 negara, dan Reader's Digest menjadi majalah yang mempunyai penjualan paling tinggi di seluruh dunia.
DeWitt dan Lila bukan hanya sepasang suami istri, mereka juga adalah sahabat sejati. Mereka mendukung, memberi semangat, dan percaya satu dengan yang lain. Mereka bekerja bersama-sama untuk membuat mimpi mereka menjadi kenyataan dan dalam prosesnya mereka saling menghargai.
Kisah keberhasilan dari majalah Reader's Digest dimulai dari kasih sepasang suami istri. Kasih yang selalu memberi, mendukung, memberikan kekuatan, membangun dan saling menolong. Sungguh alangkah indahnya kalau sepasang suami dan istri yang bisa melakukan kasih yang demikian. Pernikahan akan menjadi tempat di mana mimpi-mimpi akan bisa tercapai.
Friday, 17 June 2016
MARRIAGE 33: GARA-GARA BURUNG PELATUK
Pesawat ulang alik Discovery akhir-akhir ini dilarang terbang - bukan karena kesalahan teknis atau kurangnya dana dari pemerintah, tetapi karena adanya burung pelatuk.
Burung pelatuk melihat kalau busa penahan untuk tangki bensin di pesawat itu sangat menarik untuk dipatuk. Busa itu sangat penting untuk daya kerja pesawat ulang alik tersebut. Tanpanya, es akan terbentuk menyelimuti tangki pada waktu tangkinya diisi oleh bensin yang sangat dingin, es-nya bisa lepas pada waktu tinggal landas dan bisa merusakkan pesawat ulang alik yang besar itu. Jadi pesawat itu tidak bisa terbang sampai kerusakannya bisa diperbaiki.
Pernikahan seringkali dirusakkan bukan oleh hal-hal yang besar - perselingkuhan atau penganiayaan atau diterlantarkan - tetapi oleh hal-hal yang kecil. Kritikan, kurangnya saling menghormati, dan tidak menghargai satu dengan yang lain akan merusak hubungan dan menghalangi kita untuk mencapai kasih yang memuaskan.
Burung pelatuk melihat kalau busa penahan untuk tangki bensin di pesawat itu sangat menarik untuk dipatuk. Busa itu sangat penting untuk daya kerja pesawat ulang alik tersebut. Tanpanya, es akan terbentuk menyelimuti tangki pada waktu tangkinya diisi oleh bensin yang sangat dingin, es-nya bisa lepas pada waktu tinggal landas dan bisa merusakkan pesawat ulang alik yang besar itu. Jadi pesawat itu tidak bisa terbang sampai kerusakannya bisa diperbaiki.
Pernikahan seringkali dirusakkan bukan oleh hal-hal yang besar - perselingkuhan atau penganiayaan atau diterlantarkan - tetapi oleh hal-hal yang kecil. Kritikan, kurangnya saling menghormati, dan tidak menghargai satu dengan yang lain akan merusak hubungan dan menghalangi kita untuk mencapai kasih yang memuaskan.
Wednesday, 15 June 2016
MARRIAGE 27: BUKU SCARLETT LETTER
Nathaniel Hawthorne tidak hanya berhutang akan kesuksesannya karena diberikan semangat setiap hari oleh istrinya, tetapi juga karena diberikan kesempatan untuk menulis karya ciptanya yang luar biasa.
Kehilangan pekerjaannya, Nathaniel pulang ke rumah untuk mengatakan kepada istrinya kalau dia adalah seorang yang gagal. Yang membuatnya kaget, istrinya berkata, "Sekarang kamu bisa menulis bukumu!" "Bagaimana kita bisa hidup sementara saya menulis buku?" Wanita yang luar biasa ini mengeluarkan uang tunai yang cukup banyak. "Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak ini?"
Dia menjawab, "Saya sudah tahu sejak lama kalau engkau adalah seorang yang jenius dan kamu akan menulis satu buku yang luar biasa. Setiap minggu, uang untuk belanja, saya hemat dan saya tabung. Uang ini cukup untuk biaya hidup kita selama satu tahun.
Hawthorne akhirnya menulis salah satu buku yang paling baik yang pernah ditulis, yang berjudul "The Scarlet Letter."
Kisah ini memberikan gambaran betapa pentingnya hubungan yang saling membangun di dalam keluarga. Nathaniel tidak akan bisa menghasilkan buku yang luar biasa tanpa ada dukungan dan pertolongan dari istrinya. Kalau suami dan istri bisa saling mendukung dan membangun, banyak permasalahan yang akhirnya akan berubah menjadi suatu kesempatan untuk menghasilkan sesuatu yang luar biasa.
Kehilangan pekerjaannya, Nathaniel pulang ke rumah untuk mengatakan kepada istrinya kalau dia adalah seorang yang gagal. Yang membuatnya kaget, istrinya berkata, "Sekarang kamu bisa menulis bukumu!" "Bagaimana kita bisa hidup sementara saya menulis buku?" Wanita yang luar biasa ini mengeluarkan uang tunai yang cukup banyak. "Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak ini?"
Dia menjawab, "Saya sudah tahu sejak lama kalau engkau adalah seorang yang jenius dan kamu akan menulis satu buku yang luar biasa. Setiap minggu, uang untuk belanja, saya hemat dan saya tabung. Uang ini cukup untuk biaya hidup kita selama satu tahun.
Hawthorne akhirnya menulis salah satu buku yang paling baik yang pernah ditulis, yang berjudul "The Scarlet Letter."
Kisah ini memberikan gambaran betapa pentingnya hubungan yang saling membangun di dalam keluarga. Nathaniel tidak akan bisa menghasilkan buku yang luar biasa tanpa ada dukungan dan pertolongan dari istrinya. Kalau suami dan istri bisa saling mendukung dan membangun, banyak permasalahan yang akhirnya akan berubah menjadi suatu kesempatan untuk menghasilkan sesuatu yang luar biasa.
Monday, 13 June 2016
MARRIAGE 26: SUSAH DILAKUKAN
Dr. M.R. De Haan menulis di biographynya menyatakan kalau dia tidak selalu memperlakukan istrinya, Priscilla, seperti seorang ratu di dalam rumah tangga. Pada satu saat Roh Kudus menegur dia melalui renungan harian yang dia tulis sendiri. Pada waktu dia tiba di kantor di pagi hari, dia menceritakan kisahnya.
"Tadi pagi Ny. De Haan dan saya memiliki sedikit perselisihan, dan saya tidak mengucapkan satu patah katapun pada waktu kami sedang makan pagi. Akhirnya tibalah waktunya untuk membaca renungan harian dari buku Our Daily Bread. Dia membacanya dalam hati untuk beberapa saat. Lalu mengambil buku tersebut dan menunjukkannya di depan muka saya sambil bertanya, "Apakah kamu yang menulis renungan hari ini? Saya membaca renungan hariannya dan merasa ada yang tidak beres. Renungan hari ini berbicara mengenai kebaikan dan menanggung segala sesuatu. Kita harus membereskan perselisihan kita saat ini juga. Lebih mudah untuk berkhotbah tetapi sangat lebih sukar untuk melakukan apa yang dikhotbahkan."
Biarlah di dalam pernikahan kita bisa saling menjaga perkataan dan tindakan kita. Begitu mudah untuk bisa mengatakan sesuatu dan seringkali sukar untuk melaksanakannya. Biarlah kita juga selalu dipenuhi oleh Firman Tuhan dan juga melakukan apa yang Firman Tuhan katakan. Bila kita bisa menjalankan Firman Tuhan, itu akan memberikan tuntunan dalam pernikahan kita.
"Tadi pagi Ny. De Haan dan saya memiliki sedikit perselisihan, dan saya tidak mengucapkan satu patah katapun pada waktu kami sedang makan pagi. Akhirnya tibalah waktunya untuk membaca renungan harian dari buku Our Daily Bread. Dia membacanya dalam hati untuk beberapa saat. Lalu mengambil buku tersebut dan menunjukkannya di depan muka saya sambil bertanya, "Apakah kamu yang menulis renungan hari ini? Saya membaca renungan hariannya dan merasa ada yang tidak beres. Renungan hari ini berbicara mengenai kebaikan dan menanggung segala sesuatu. Kita harus membereskan perselisihan kita saat ini juga. Lebih mudah untuk berkhotbah tetapi sangat lebih sukar untuk melakukan apa yang dikhotbahkan."
Biarlah di dalam pernikahan kita bisa saling menjaga perkataan dan tindakan kita. Begitu mudah untuk bisa mengatakan sesuatu dan seringkali sukar untuk melaksanakannya. Biarlah kita juga selalu dipenuhi oleh Firman Tuhan dan juga melakukan apa yang Firman Tuhan katakan. Bila kita bisa menjalankan Firman Tuhan, itu akan memberikan tuntunan dalam pernikahan kita.
Subscribe to:
Posts (Atom)